Jumat, 14 Desember 2012



Jakarta - Otolovers semua sudah mengatahui pabrik Yamaha terbesar di seluruh dunia ada dimana? Ternyata ada di Indonesia, tepatnya di Jalan Permata 1 Lot BB- 1 Kawasan Industri KIIC, Karawang, Jawa Barat.

Pabrik ini mampu memproduksi 2 juta unit motor dalam 1 tahunnya. Luar biasa! Tapi bagaimana kira-kira 'dapur' motor Yamaha terbesar di dunia ini ya Otolovers?

Pabrik yang berdiri di lahan seluas 35,6 hektare ini dihuni oleh 5.557 orang karyawan. Nah dalam proses perakitan sepeda motor Yamaha di pabrik Yamaha Motor Manfacturing West Java (YMMWJ) ini selain dibantu oleh tenaga manusia dan robot ternyata dibandu juga oleh sepeda motor listrik. Motor listrik Yamaha ini akan membantu menarik perangkat yang sekiranya berat.

"Motor listrik ini kami (Yamaha) gunakan untuk menarik part-part yang berat saja," ungkap Sugiono, General For Man Yamaha Motor Manufacturing West Java saat berbincang dengan detikOto di Karawang, Jawa Barat, Jumat (14/12/2012).

Menurut Sugiono, ada 50 unit motor listrik Yamaha yang 'bergentayangan' di dalam pabrik. Masing-masing line produksi tersedia 3 unit motor listrik.

"Jumlahnya kurang lebih 50 unit. Setiap line ada 3 unit. Kita disini punya 10 line, jadi motor listrik ini bisa membantu karyawan yang akan menarik part-part berat," paparnya.

Part yang ditarik oleh motor listrik ini seperti blok mesin bodi silinder dan beberapa perangkat berat lainnya. Tujuannya agar mempermudah dan mempercepat kerja karyawan dalam menarik perangkat berat tersebut.

Sugiono menambahkan, kinerja motor listrik Yamaha ini dapat dikatakan maksimal. Sebab dalam kondisi baterai penuh dapat beroperasi maksimal selama 12 jam dan minimal 4 hingga 6 jam.

"Ketahanan baterainya kalau dipakai normal bisa mencapai 12 jam. Tapi kalau sering digunakan menarik alat berat hanya bisa 4 hingga 6 jam saja dan waktu pengisian baterainnya dari kosong ke penuh hanya perlu waktu 5 jam," tutupnya.

Ini Alasan Yamaha Selalu Meluncurkan Motor di Kota Kembang

Di sisi lain, belakangan ini Yamaha Indonesia sering meluncurkan sepeda motor terbarunya di Bandung. Sebelumnya ada Yamaha Fino dan Mio J, kali ini New V-Ixion yang akan diluncurkan di kota kembang. Kira-kira apa alasan Yamaha melirik Bandung sebagai tempat peluncuran sepeda motor terbarunya?

General Manager Marketing Communication & Community Management Yamaha Indonesia Eko Prabowo, mencoba memaparkan hal tersebut.

Menurut Eko pada intinya tidak ada apa-apa. Hal itu hanya faktor kebetulan dan sama sekali tidak ada pengaruh ke penjualan Yamaha di Indonesia.

"Itu hanya faktor kebetulan saja. Kami (Yamaha) sama sekali tidak melihat karena faktor penjualan di Bandung itu tinggi dibanding kota-kota lain," ungkap Eko saat berbincang dengan detikOto, di pabrik Yamaha Motor Manufacturing West Java, Karawang, Jawa Barat, Jumat (14/12/2012).

Lebih jelas Eko memaparkan, untuk New V-Ixion yang akan diluncurkan di Bandung juga karena melihat ada beberapa tempat yang menarik dan sesuai dengan karakter New-V-Ixion.

"Ada masukan juga dari para wartawan dan ank klub kalau peluncurannya jangan jauh-jauh. Maka dari itu kami pilih Bandung dan kebetulan di sana ada tempat yang sesuai dengan karakter New V-Ixion," timpal Eko.

Eko menambahkan, nantinya sebelum diluncurkan New V-Ixion ini akan dijajal oleh para awak media otomotif nasional dan beberapa perwakilan klub Yamaha di Jakarta dan sekitarnya.

"Nanti jalur lembang yang akan kita coba untuk menguji akselerasi dan performa New-V-Ixion," cetusnya.

Lebih lanjut, untuk Bandung sendiri pasar sepeda motor Yamaha masih dikuasai oleh motor matik dan untuk motor sport masih tergolong kecil. Market motor sport terbesar Yamaha masih dipegang oleh wilayah Jakarta.

"Di Bandung market motor sport ada tapi kecil. Untuk sport, Jakarta masih menguasai dengan pangsa pasar lebih dari 50 persen. Motor sport itu sendiri lebih mengacu pada life style dan kota-kota besar itu sendiri yang selalu menghadirkan gaya hidup yang moderen," tandasnya.

Rabu, 12 Desember 2012

Seminar Nasional dan Sosialisasi Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi

Rabu, 05 Desember 2012 14:03 WIB


Prof. Dr. Musa Asyarie membuka seminar dengan Gong Digital

(4/12/2012) Pusat Komputer dan Sistem Informatika (PKSI) UIN Sunan Kalijaga adakan Seminar nasional dengan tema "Digital Lifestyle Experience for Higher Education". Acara  ini diadakan digedung Convention Hall dan dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan masyarakat umum. Seminar ini dibuka langsung oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. H. Musa Asy'arie dengan Gong Digital. Menurut Ketua PKSI, Agung Fatmanto, Ph.D., kegiatan ini diadakan sebagai komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam mewudkan kampus digital dan sebagai upaya membangun budaya  digital di perguruan tinggi. “ Di era globalisassi saat ini, perguruan tinggi harus memaksimalkan pengunaan tekhnologi digital, mengingat perkembangan arus informasi yang begitu pesatnya, hal ini sebagai imbas dari kemajuan dunia digital yang terjadi saat ini. Penerapan teknologi digital juga harus dibarengi dengan peningkatan pengetahuan teknologi komputerisasi bagi seluruh civitas kampus, baik dosen, pegawai dan mahasiswanya, agar menjadi sinergisitas”, tutur Agung Fatmanto yang juga dosen pada Fakultas Sains dan Teknologi. Dalam seminar ini menghadirkan Ryan Fabella (Client Software Architec IBM), Pepita Gunawan (Indonesian Google Southeast Asia dan Agung Fatmanto, Ph.D. sebagai pembicara.
Dalam sambutannya Musa Asyarie menyampaikan bahwa, UIN Sunan Kalijaga akan senantiasa mengembangkan kampus menuju kampus digital, karena, dengan penerapan teknologi digital, semua akses informasi akan menjadi mudah. Perkembangan teknologi yang begitu pesat seharusnya kita manfaatkan dan direspons secara positif, jangan sampe dengan perkembangan itu kita malah menjadi keblinger. “ Saat ini kita sudah dikuasai oleh dunia ‘kotak’, karena sebagian besar alat teknologi yang kita gunakan berbentuk kotak, PC, Monitor, PC Tablet, HP, Laptop semuanya berbentuk kotak. Melihat hal ini, kita jangan sampai dikotak-kotakkan oleh barang ‘kotak’ ini. Karena dengan barang ‘kotak’ ini individualisme akan semakin meningkat, untuk itu filter dalam penggunaan teknologi di era digital ini sangat penting”, tutur Musa.
“ Dalam acara ini juga dihadiri oleh delegasi PTAIN se-Indonesia dan delegasi pusat komputer Perguruan Tinggi dan civitas Mahasiswa se-DIY ”, tambah Agung. *(Doni Tri W-Humas UIN Suka)


Seminar Nasional Membangun Budaya Digital di Perguruan Tinggi

SEMINAR NASIONAL MEMBANGUN BUDAYA DIGITAL DI PERGURUAN TINGGI

http://www.uin-suka.ac.id/files/pengumuman/Seninr%20NAsional%20Adab.jpg